Di Afrika, Ratusan Pelajar Pernah Berkomunikasi Langsung dengan Astronaut di Luar Angkasa
Bayangin lagi duduk di sekolah, lalu tiba-tiba suara dari luar angkasa masuk lewat radio dan yang menjawab adalah Sophie Adenot, astronaut European Space Agency (ESA) yang sedang berada di International Space Station (ISS). Momen seperti ini bukan cerita film. Pada 5 Agustus 2026, para pelajar di Nairobi, Kenya, benar-benar melakukan komunikasi langsung dengan Adenot yang sedang mengorbit Bumi sekitar 400 kilometer di atas sana. Peristiwa ini menjadi kontak ARISS pertama Kenya dan membuat ruang kelas terasa seperti punya “telepon” langsung ke luar angkasa.
Beberapa hal unik dari komunikasi pelajar Afrika dengan astronaut:
- Bukan pakai Zoom atau internet biasa. Komunikasi dilakukan melalui Amateur Radio on the International Space Station (ARISS). Untuk acara Kenya, sinyal dari ISS diteruskan melalui stasiun radio telebridge di Belgia, sebelum sampai ke lokasi pelajar.
- Waktunya super terbatas. Kontak radio semacam ini biasanya hanya berlangsung sekitar 10 menit, karena kesempatan komunikasi bergantung pada posisi dan lintasan ISS terhadap wilayah di Bumi. Jadi, pelajar harus sudah menyiapkan pertanyaan sebelum sinyal tersambung.
- Astronaut-nya benar-benar sedang berada di orbit. Sophie Adenot tidak sedang berada di studio atau ruangan khusus di Bumi. Ia merupakan astronaut ESA yang sedang menjalankan misi di ISS, sehingga suara yang diterima pelajar berasal dari kru yang hidup dan bekerja di stasiun luar angkasa.
- Pertanyaannya bukan sekadar basa-basi. Para pelajar Kenya menanyakan kehidupan dalam mikrogravitasi, latihan astronaut, masa depan eksplorasi luar angkasa, hingga bagaimana negara seperti Kenya bisa berkontribusi dalam bidang antariksa.
- Kenya bukan satu-satunya bagian dari gerakan ini. Program ARISS memang dirancang untuk menghubungkan pelajar dari berbagai negara dengan kru ISS. Secara global, program ini melakukan sekitar 60–100 kontak pendidikan setiap tahun.
Yang bikin kejadian ini makin menarik adalah cara teknologi radio sederhana bisa menjembatani jarak yang gila-gilaan jauhnya. ISS bergerak mengelilingi Bumi dengan kecepatan sekitar 28.000 km/jam, sementara komunikasi radio harus dilakukan pada jendela waktu yang sangat terbatas. Jadi, di balik momen “halo astronaut!” tersebut sebenarnya ada perhitungan orbit, antena, frekuensi radio, stasiun bumi, serta koordinasi yang cukup rumit. Bahkan NASA mencatat bahwa sejak program komunikasi pendidikan semacam ini berkembang, ARISS telah menghubungkan lebih dari 250.000 peserta dengan stasiun luar angkasa dan melibatkan lebih dari 100 kru.
Buat para pelajar Kenya, pengalaman ini bukan cuma keren buat diceritain ke teman. Mereka bisa melihat secara langsung bahwa sains, radio, teknologi, dan astronomi bukan sesuatu yang cuma ada di buku pelajaran. Dari sebuah ruang kelas di Afrika, suara seorang astronaut bisa terdengar langsung dari orbit—dan itu mungkin saja menjadi awal dari lahirnya generasi ilmuwan atau engineer Afrika berikutnya.